
Selama ini, teologi telah berhasil menyediakan argumen-argumen bagi agama untuk menjawab persoalan-persoalan eksistensial manusia seperti kematian, kejahatan, penderitaan, dst. dengan menghadirkan sosok ‘Yang Ultim’ sebagai sandaran dan jawaban utama. Namun, bagaimana seandainya persoalan-persoalan tersebut mampu diselesaikan sendiri oleh manusia melalui sains dan teknologi? Bagaimana jika manusia mampu lepas dari jerat kematian dan penderitaan yang disebabkan oleh terbatasnya tubuh biologis? Apakah konsep ‘Yang Ultim’ tersebut masih relevan?








