Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan ICT Watch menyelenggarakan AI Literacy Summit pada Kamis, 12 Februari 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Kegiatan ini menghadirkan akademisi, pembuat kebijakan, dan pegiat literasi digital untuk mendiskusikan implikasi kecerdasan artifisial (AI) terhadap manusia, pendidikan, dan masyarakat.
Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti, menyampaikan bahwa sejak tahun 2002 ICT Watch telah mendorong penggunaan internet positif dan literasi digital di Indonesia. “Bersama-sama kita membangun ruang siber yang lebih aman, etis, dan inklusif. Teknologi selalu memiliki sisi positif dan negatif, sehingga perlu dimanfaatkan secara bijak,” ujarnya.
Dekan Fakultas Filsafat UGM dalam sambutannya menekankan bahwa perbincangan mengenai AI tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan filosofis tentang manusia. Menurutnya, sejak awal sejarah kemanusiaan, manusia selalu bertanya ‘siapakah aku’, yang berkaitan dengan kesadaran, kebebasan, dan tanggung jawab.
“Di era AI, pertanyaan itu kembali mengemuka. Semua pertanyaan tentang AI pada akhirnya kembali pada identitas manusia. AI tidak lahir dari ruang hampa, tetapi dari cara manusia memahami dunia, rasionalitas, dan kecerdasannya sendiri,” jelasnya.
Melalui AI Literacy Summit ini, Fakultas Filsafat UGM menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang dialog lintas disiplin mengenai teknologi, etika, dan kemanusiaan, sekaligus memperkuat literasi digital masyarakat agar mampu memanfaatkan kecerdasan artifisial secara kritis, reflektif, dan bertanggung jawab.
Rektor UGM pada kesempatan yang sama menegaskan bahwa perkembangan teknologi menghadirkan peluang sekaligus kekhawatiran, terutama terkait etika dan integritas akademik di lingkungan kampus. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan sivitas akademika untuk memahami AI secara kritis.
“UGM telah memiliki sejumlah tonggak awal dalam pengembangan AI, termasuk penerbitan buku panduan etika akademik pemanfaatan AI generatif pada tahun 2025. UGM berkomitmen mengawal transformasi digital dan pengembangan ilmu pengetahuan secara bertanggung jawab,” tuturnya.
Kegiatan AI Literacy Summit diisi dengan kuliah umum oleh Kepala Badan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Digital, Bonifasius Pujianto, serta workshop bertajuk “Mahasiswa Siaga Siber: Jaga Privasi dan Data Pribadi di Era AI”. Pada kesempatan ini, turut dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama antara ICT Watch dengan Fakultas Filsafat UGM.
Bonifasius Pujianto, dalam sesi kuliah umum menyoroti dampak AI terhadap ekonomi dan inklusivitas sosial. Ia mengingatkan agar pengembangan AI tidak mengabaikan kelompok disabilitas serta membuka peluang lintas disiplin.
“Ekonomi digital di Asia Tenggara diperkirakan meningkat hingga satu triliun dolar AS, dan Indonesia sekitar 366 miliar dolar AS. Tantangannya adalah bagaimana kita mencapainya. Startup tidak harus selalu berbasis teknologi murni, tetapi bisa bersifat multidisipliner,” jelasnya.