Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan acara pelepasan wisudawan Program Sarjana dalam rangka Wisuda Periode II Tahun Akademik 2025/2026 pada 25 Februari 2026 di Ruang Sidang Persatuan, Fakultas Filsafat UGM. Pada periode ini, sebanyak 30 mahasiswa resmi menyandang gelar Sarjana Filsafat. Dari jumlah tersebut, 21 lulusan (70%) meraih predikat pujian (cum laude) dan 9 lulusan memperoleh predikat sangat memuaskan.
Dalam sambutannya Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., menyampaikan apresiasi kepada para wisudawan serta orang tua yang telah mendampingi proses studi. “Hari ini putra-putri bapak dan ibu yang beberapa tahun lalu dititipkan kepada kami telah menyelesaikan seluruh kewajiban akademiknya dan secara sah diwisuda. Ini adalah capaian besar kita bersama,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa kelulusan menandai fase baru kehidupan. “Setelah ini saudara-saudara kembali ke masyarakat, menerapkan apa yang telah dipelajari. Di sektor apa pun nanti saudara bekerja, semua sama mulianya selama memberi manfaat bagi umat manusia,” pesannya.
Para wisudawan sebelumnya mengikuti upacara wisuda bersama lulusan Sarjana dan Sarjana Terapan se-UGM di Grha Sabha Pramana UGM sebelum kembali ke fakultas untuk mengikuti prosesi pelepasan secara internal. Acara pelepasan dihadiri oleh para wisudawan, orang tua atau perwakilan keluarga, serta para dosen yang menyaksikan mahasiswa bimbingan mereka menuntaskan perjalanan studi di kampus.
Perwakilan wisudawan, Edo Saut Hutapea, yang juga menjadi lulusan terbaik dengan IPK 3,95 dan masa studi 4 tahun 3 bulan 8 hari, mengajak rekan-rekannya untuk merefleksikan makna kelulusan sebagai sarjana filsafat. Ia menekankan bahwa di tengah label dunia kerja yang dilekatkan pada lulusan perguruan tinggi, seorang sarjana filsafat perlu terus bertanya secara kritis apakah ia hadir sebagai manusia seutuhnya atau sekadar sebagai fungsi.
“Studi filsafat kita secara formal telah berakhir. Namun pertanyaan ‘setelah ini, lalu apa?’ adalah pertanyaan yang tidak mungkin tidak kita refleksikan,” ujarnya.
Selain Edo sebagai lulusan terbaik, penghargaan juga diberikan kepada Venerini Renistya Sasti Kelana sebagai lulusan tercepat sekaligus termuda dengan masa studi 3 tahun 4 bulan 7 hari (7 semester) dan IPK 3,80. Ia sendiri merupakan peserta angkatan pertama Program Fast Track Sarjana–Magister dan saat ini tengah menjalani studi Magister (S2) di semester kedua.
Acara pelepasan ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga ruang refleksi atas perjalanan intelektual yang telah ditempuh. Suasana haru dan bangga menyertai prosesi tersebut, yang menjadi momen bertemunya orang-orang yang selama ini menjadi fondasi perjalanan belajar para mahasiswa.
Mewakili orang tua wisudawan, Thomson Hutapea menyampaikan terima kasih kepada seluruh sivitas Fakultas Filsafat UGM atas pendampingan selama proses studi. Ia menilai bahwa meskipun studi filsafat menuntut kemandirian, lingkungan akademik turut membentuk cara berpikir para lulusan. Ia juga berpesan agar para wisudawan berkontribusi di masyarakat dengan semangat yang sama seperti ketika memperdebatkan ide-ide di ruang kelas.
“Terima kasih saudara-saudari telah terlibat langsung dalam perjalanan kuliah anak-anak kami. Pengaruh saudara sedikit banyak hadir dalam cara mereka berpikir, sebagai teman, kolega, dosen, bahkan sebagai orang tua,” ungkapnya.