Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama ICT Watch mempresentasikan hasil riset kolaboratif bertajuk AI Insight Report 2025 dalam rangkaian AI Literacy Summit. Hasil penelitian disampaikan oleh peneliti Luthfi Baihaqi Riziq sebagai gambaran awal mengenai relasi masyarakat Indonesia, khususnya Generasi Z, dengan kecerdasan artifisial (AI).
Penelitian dilakukan menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam dengan responden Generasi Z dari seluruh wilayah Indonesia serta informan dari sektor industri, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil. Kajian ini menggunakan pendekatan postdigital yang melihat AI tidak hanya sebagai teknologi digital, tetapi juga terkait infrastruktur fisik, tata kelola, distribusi akses, dan relasi personal manusia dengan teknologi.
Temuan menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai infrastruktur digital sebagai faktor penting dalam adopsi AI. Sebanyak 89% responden menyatakan peningkatan kualitas dan keterjangkauan internet serta konektivitas data menjadi prasyarat penggunaan AI yang efektif. Luthfi menerangkan, “peningkatan kualitas internet menjadi syarat penting dalam mendorong adopsi AI.”
Pada aspek tata kelola, 64% responden menunjukkan kepercayaan terhadap kapasitas pemerintah dalam pengembangan infrastruktur digital, meskipun terdapat keraguan terkait inklusivitas dan transparansi kebijakan. Dalam aspek inklusi sosial, riset menemukan bahwa AI membuka peluang sekaligus tantangan. Sebanyak 76% responden percaya AI membantu penyandang disabilitas menggunakan media sosial secara aman, tetapi 65% masih menilai keterbatasan fitur aksesibilitas membatasi pemanfaatannya.
Pada sektor ekonomi, sebagian responden menilai AI berpotensi memperbesar kesenjangan antara kelompok berpenghasilan tinggi dan rendah serta memengaruhi ketahanan pekerjaan. “AI membuka peluang inklusi, namun hambatan aksesibilitas masih menjadi persoalan nyata,” imbuhnya.
Dari sisi pengalaman personal, Generasi Z menunjukkan tingkat kedekatan yang tinggi dengan AI. Sebanyak 75% responden sering mengakses AI dalam kehidupan sehari-hari, 71% merasa puas dengan penggunaannya, dan 60% mengaku memiliki ketergantungan terhadap AI. Dalam paparan dijelaskan bahwa kedekatan tinggi dengan AI diikuti kesadaran akan potensi ketergantungan. Sebagian besar juga menilai penguasaan keterampilan AI menghasilkan kompetensi baru yang bermanfaat bagi kehidupan profesional maupun pribadi.
Penelitian juga mengungkap bahwa AI dipersepsikan membawa manfaat lebih besar dibandingkan dampak negatifnya oleh sebagian responden, serta memiliki pengaruh nyata pada kehidupan personal dan profesional. Namun demikian, isu lingkungan, keadilan akses, serta relasi manusia dengan teknologi tetap menjadi perhatian dalam pengembangan AI ke depan.
Melalui pemaparan riset ini, Fakultas Filsafat UGM dan ICT Watch menegaskan pentingnya pendekatan human-centered dalam memahami perkembangan kecerdasan artifisial. Kajian ini diharapkan menjadi dasar pengembangan literasi AI yang tidak hanya menekankan kemampuan teknis, tetapi juga refleksi etis dan sosial di tengah transformasi digital.