Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan MUSHFOAM, inovasi material kemasan alternatif berbasis miselium jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) dan limbah pertanian. Inovasi ini dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) 2026 sebagai upaya menghadirkan alternatif material pengemasan yang lebih ramah lingkungan.
Tim MUSHFOAM diketuai oleh Divo Cahaya Fikri dari Fakultas Teknik, bersama Nasyawana Ladita Agustine dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Umi Muthoharoh dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Reyhan Abelard Fikri dari Sekolah Vokasi, dan Balqhis Naila Andini dari Fakultas Filsafat. Tim didampingi oleh Choirunnisa Arifa, S.E., M.Sc., Ph.D., Ak., CA., dari Departemen Akuntansi FEB UGM.
Divo menjelaskan, gagasan pengembangan MUSHFOAM berawal dari perhatian tim terhadap limbah styrofoam yang sulit terurai secara alami. Tim kemudian memanfaatkan limbah pertanian sebagai substrat yang diikat oleh pertumbuhan miselium jamur untuk menghasilkan material pengganti polistirena.
“Dari persoalan tersebut, muncul gagasan untuk memanfaatkan limbah pertanian yang mudah terurai sebagai pengganti polistirena, guna mengurangi limbah styrofoam sekaligus memaksimalkan potensi limbah pertanian yang belum banyak dimanfaatkan,” ujar Divo, Jumat (4/9).
Dalam proses pembuatannya, ampas tebu dan tongkol jagung digunakan sebagai bahan utama, kemudian dicampur dengan dedak padi dan kalsium karbonat. Campuran tersebut disterilisasi sebelum diinokulasi dengan bibit jamur. Miselium kemudian dibiarkan tumbuh selama lima hingga tujuh hari hingga membentuk jalinan yang kokoh. Material yang telah terbentuk selanjutnya dikeringkan dan dilapisi beeswax untuk meningkatkan ketahanannya terhadap kelembapan.
MUSHFOAM menghasilkan panel dengan ketebalan 1–2 cm dan ukuran standar 60 × 40 cm yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Penggunaan limbah pertanian sebagai bahan baku juga menjadi bagian dari upaya tim menerapkan prinsip circular economy.
Selain mengembangkan material, tim turut menguji kelayakan usaha MUSHFOAM. Umi Muthoharoh menyampaikan bahwa aspek keberlanjutan usaha menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan produk.
“Bagi kami, tantangannya bukan hanya menghasilkan material yang ramah lingkungan, tetapi juga memastikan produk tersebut memiliki nilai ekonomi dan dapat diterima pasar,” ujar Umi.
Uji kelayakan usaha menunjukkan proyeksi ROI sebesar 46,24 persen dan B/C Ratio 1,42 pada kuartal pertama penjualan dengan target awal 400 unit produk. Pengembangan pasar tahap awal diarahkan kepada pelaku UMKM di Yogyakarta melalui skema business to business, sebelum diperluas ke pasar nasional. Ke depan, tim menargetkan pengembangan varian MUSHFOAM berstandar food grade serta peluang pengurusan hak paten atas produk dan proses pembuatannya.