Pada Kamis, 30 Oktober 2025 lalu, Fakultas Filsafat menyelenggarakan kegiatan Diskusi Buku dan Budaya bersama pemikir budaya Taufik Rahzen dan sastrawan Aguk Irawan. Kegiatan ini menghadirkan pembacaan ulang terhadap peran buku, aksara, dan tradisi literasi sebagai penjaga ingatan kolektif Nusantara sekaligus medan pertarungan budaya di tengah perkembangan digital.
Dalam paparannya, Taufik Rahzen mengajak audiens menelusuri kembali bagaimana prasasti dan inskripsi kuno menjadi penanda penting perjalanan peradaban Indonesia. Ia menyebut Yupa Kutai, Prasasti Tugu, dan berbagai prasasti lain bukan hanya catatan administratif, tetapi “kode kosmologis yang merekam siklus panjang sejarah Nusantara.”