Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap dan Institut Agama Islam KH. Sufyan Tsauri (INSIMA) Majenang mengembangkan program Coaching Membangun Jiwa Merdeka Berbasis Filsafat dan Tasawuf melalui kegiatan Training of Trainer (ToT) dan coaching yang diselenggarakan di Kampus INSIMA Majenang, Rabu (10/6).
Kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan program pengabdian masyarakat Fakultas Filsafat UGM yang telah dirintis sejak 2019 melalui berbagai kegiatan penelitian, pelatihan, coaching, dan pendampingan masyarakat. Program tersebut kemudian dikembangkan bersama UNUGHA pada 2025 dan diperluas melalui kolaborasi dengan INSIMA pada 2026.
“Melalui kegiatan ToT dan coaching ini, kami berupaya membangun ruang pembelajaran sekaligus kaderisasi calon coach yang memiliki kompetensi dalam pengembangan manusia berbasis refleksi filosofis dan nilai spiritual. Program ini juga menjadi ruang dialog antara filsafat, tasawuf, dan praktik pengembangan diri dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer,” tutur Dr. Heri Santoso, dosen Fakultas Filsafat UGM yang menjadi narasumber dalam kegiatan ini.
Peserta kegiatan berasal dari unsur pimpinan perguruan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta calon fasilitator program. Berbeda dengan pelatihan yang hanya berfokus pada penyampaian materi, kegiatan ini memadukan penguatan konsep, refleksi diri, simulasi coaching, praktik langsung, dan pendampingan pengalaman batin peserta.
Proses pembelajaran berlangsung secara interaktif melalui diskusi, refleksi, dan latihan yang mendorong peserta untuk mengenali kembali potensi diri serta makna kebebasan dalam kehidupan.
Kepala LP3M UNUGHA, H. Fahrur Rozi, M.Hum., menyampaikan bahwa pendekatan Coaching Membangun Jiwa Merdeka memiliki karakter yang berbeda dibandingkan berbagai metode pengembangan diri yang berkembang saat ini. Menurutnya, program ini berusaha menghadirkan pendekatan yang lebih mendalam dengan bertumpu pada nilai-nilai keagamaan, refleksi, dan kesadaran batin manusia.
“Di Indonesia ini banyak model solusi yang menggunakan hipnosis. Namun model Coaching Membangun Jiwa Merdeka ini lebih dalam karena bertumpu pada nilai-nilai Al-Fatihah, Al-Qur’an, Asmaul Husna, dan hati nurani manusia,” tegasnya.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama antara INSIMA, LP3M UNUGHA, dan Fakultas Filsafat UGM sebagai bentuk penguatan kerja sama kelembagaan dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, publikasi ilmiah, serta pengembangan jejaring akademik.
Melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi ini, program Coaching Membangun Jiwa Merdeka Berbasis Filsafat dan Tasawuf diharapkan dapat melahirkan kader-kader penggerak yang mampu mengembangkan nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan kesadaran kritis di tengah masyarakat. Ke depan, program ini direncanakan untuk terus diperluas melalui berbagai mitra akademik dan kegiatan pengabdian masyarakat.