Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan diskusi kebudayaan bertajuk “Menelusuri Nilai Pancasila dalam Lakon dan Karakter Wayang” pada Selasa (2/6) di Gadjah Mada University Club Hotel. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat UGM sekaligus momentum penghormatan bagi Prof. Dr. Lasiyo, M.A., M.M. yang memasuki masa purna tugas setelah mengabdikan diri sebagai dosen dan Ketua Pusat Studi Wayang UGM.
Diskusi menghadirkan Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. A.M. Hendropriyono, S.T., S.H., M.H., Prof. Dr. Junaidi, S.Kar., M.Hum., dan Prof. Dr. Hardi Suyitno, M.Pd. sebagai narasumber. Kegiatan diikuti akademisi, budayawan, mahasiswa, pemerhati budaya, serta sivitas akademika UGM yang memiliki perhatian terhadap pengembangan nilai-nilai kebangsaan melalui kebudayaan.
Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., menyampaikan bahwa tema diskusi tersebut relevan dengan tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini. Menurutnya, wayang tidak hanya merupakan warisan budaya bangsa, melainkan juga sumber kebijaksanaan yang dapat membantu masyarakat menghadapi perubahan zaman.
“Kita hidup dalam era yang kaya informasi, tetapi sering kali miskin refleksi dan makna. Kita memiliki teknologi yang semakin maju, tetapi belum tentu diiringi dengan penguatan moral dan kebijaksanaan. Wayang adalah sekolah etika yang telah hidup berabad-abad dalam kebudayaan Nusantara,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Pancasila sesungguhnya telah lama berdenyut dalam berbagai ekspresi budaya Indonesia, termasuk dalam lakon dan karakter wayang. Karena itu, diskusi ini diharapkan tidak berhenti pada apresiasi terhadap wayang sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu mendorong penerapan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., dalam sambutannya menegaskan bahwa wayang merupakan media pembelajaran yang kaya akan nilai kehidupan. Menurutnya, berbagai nilai Pancasila dapat ditemukan dalam tokoh maupun alur cerita wayang, mulai dari nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, hingga keadilan sosial.
“Melalui wayang kita dapat memetik nilai kepedulian, kejujuran, tata krama, pengorbanan, dan berbagai kebajikan yang merefleksikan kehidupan manusia. Karena itu, pelestarian wayang dan regenerasi penggiat seni wayang menjadi hal yang penting untuk terus dilakukan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. Muhammad Baiquni, M.A., yang memberikan pengantar diskusi, menekankan pentingnya membaca kembali warisan pengetahuan Nusantara dalam menghadapi tantangan global. Menurutnya, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan cerita, kebijaksanaan, dan pengalaman historis yang dapat menjadi sumber inspirasi dalam menjawab persoalan kebangsaan maupun kemanusiaan.
Dalam paparannya, Prof. Hendropriyono menjelaskan bahwa wayang merupakan cermin peradaban Nusantara yang memuat filsafat hidup, etika kekuasaan, pendidikan karakter, hingga strategi kepemimpinan. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila sesungguhnya telah hidup dalam budaya Nusantara jauh sebelum Indonesia merdeka.
“Wayang mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa moral akan melahirkan kehancuran, dan kecerdasan tanpa kebijaksanaan akan melahirkan kesombongan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa bangsa Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan seperti krisis etika publik, budaya hoaks, individualisme, serta melemahnya keteladanan moral. Karena itu, menurutnya, pendekatan kebudayaan perlu menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat karakter bangsa.
Pada sesi berikutnya, Prof. Junaidi mengulas bagaimana lakon dan karakter tokoh wayang dapat menjadi sarana penelusuran nilai-nilai Pancasila. Ia menjelaskan bahwa berbagai tokoh Pandawa merepresentasikan nilai-nilai kebajikan yang selaras dengan sila-sila Pancasila. Yudhistira, misalnya, mencerminkan ketakwaan, kejujuran, dan kasih sayang; Werkudara menggambarkan keberanian dan kemanusiaan; sementara Arjuna merepresentasikan semangat persatuan dan kemampuan merangkul perbedaan.
Menurutnya, wayang memiliki potensi besar sebagai media pendidikan karakter. Karena itu, diperlukan berbagai inovasi agar nilai-nilai yang terkandung dalam wayang dapat diterima oleh generasi muda, termasuk melalui pengembangan model wayang animasi dan media pembelajaran yang lebih dekat dengan anak-anak dan remaja.