Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Sharing Session bertajuk“Social Innovation and Sustainable Development Goals: Lesson Learned from Thailand” pada Kamis (9/7) di Ruang Rapat Ketuhanan, Fakultas Filsafat UGM. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari Mae Fah Luang University, Thailand, yaitu Thanikun Chantra, Dean of School of Social Innovation, dan Dr. Sawang Meesaeng, Curriculum Committee International Development Program.
Dalam sesi pertama, Thanikun Chantra mengulas konsep pembangunan berkelanjutan dan inovasi sosial sebagai pendekatan untuk menjawab berbagai persoalan global yang kompleks, mulai dari perubahan iklim, ketimpangan sosial, hingga transformasi digital. Menurutnya, inovasi sosial tidak hanya berkaitan dengan lahirnya gagasan baru, tetapi juga penerapan solusi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Inovasi sosial merupakan proses menciptakan dan menerapkan solusi yang efektif terhadap berbagai tantangan sosial dan lingkungan yang kompleks guna mewujudkan kemajuan masyarakat,” jelasnya.
Ia juga memperkenalkan pendekatan “STEP” See and Observe the Problems, Think Differently, Engage Stakeholders, dan Prototype; Start Small. Selain itu, peserta diajak memahami bagaimana 17 tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) dapat menjadi kerangka bersama dalam mewujudkan pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Pada sesi berikutnya, Dr. Sawang Meesaeng memaparkan studi kasus mengenai pengembangan kopi Arabika di Desa Pangkhon, Chiang Rai, Thailand. Melalui model agroforestri, budidaya kopi tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, tetapi juga mendukung konservasi hutan dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Narasumber menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan kolaborasi antara komunitas lokal, pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta.
Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif mahasiswa Fakultas Filsafat UGM. Sejumlah mahasiswa mengajukan pertanyaan terkait tantangan implementasi SDGs, inovasi sosial, serta pembangunan berbasis komunitas. Beberapa peserta juga membagikan pengalaman dan refleksi mengenai berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang dihadapi masyarakat Indonesia, sehingga tercipta pertukaran perspektif yang menarik antara konteks Thailand dan Indonesia.
Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa pencapaian SDGs memerlukan inovasi, kolaborasi lintas sektor, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam merumuskan dan menjalankan solusi atas persoalan-persoalan yang dihadapi bersama.