Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan pentas wayang kulit sebagai penutup puncak perayaan Dies Natalis ke-59 Fakultas Filsafat UGM sekaligus bentuk penghormatan dalam rangka purnatugas Prof. Dr. Lasiyo, M.A., M.M., pada Senin malam (18/8). Kegiatan ini dilaksanakan setelah sebelumnya digelar Rapat Senat Terbuka.
Pentas wayang kulit menghadirkan Ki Gondo Suharno, S.Sn. sebagai dalang dengan lakon “Abiyasa Madeg Brahmana”. Acara ini diikuti oleh sivitas akademika Fakultas Filsafat UGM, para penikmat seni budaya, serta masyarakat umum yang turut hadir menikmati pertunjukan hingga malam hari.
Penyelenggaraan pentas wayang kulit memiliki makna yang istimewa, mengingat wayang merupakan salah satu bidang yang mendapatkan perhatian serius dalam pengembangan kajian filsafat di Fakultas Filsafat UGM. Sosok Prof. Lasiyo sendiri dikenal sebagai salah satu penggagas berdirinya Pusat Kajian Filsafat Wayang, yang menjadi ruang pengembangan dan pengkajian nilai-nilai filosofis dalam tradisi pewayangan Indonesia.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., menegaskan bahwa wayang tidak hanya hadir sebagai pertunjukan seni, tetapi juga sebagai medium refleksi filosofis yang kaya akan nilai-nilai kehidupan.
“Wayang bukan sekadar tontonan, ia adalah tuntunan, cara kebudayaan kita melakukan refleksi filosofis manusia dengan dunianya. Dari wayang kita belajar bahwa hidup tidak hitam putih, bahwa kebenaran patut diperjuangkan, dan bahwa pengetahuan perlu disertai dengan kebijaksanaan.”
Menurutnya, tradisi pewayangan memuat berbagai pembelajaran mengenai kebijaksanaan, kepemimpinan, tanggung jawab moral, hingga pergulatan manusia dalam mencari kebenaran. Oleh karena itu, wayang memiliki kedekatan yang kuat dengan kajian filsafat yang berkembang di lingkungan akademik Fakultas Filsafat UGM.

Pemilihan lakon Abiyasa Madeg Brahmana juga menghadirkan pesan reflektif mengenai perjalanan hidup, kebijaksanaan, dan pengabdian. Kisah Abiyasa yang memilih jalan keutamaan dan kebijaksanaan sebagai brahmana menjadi simbol yang relevan dengan nilai-nilai keteladanan seorang pendidik dan intelektual yang telah mendedikasikan dirinya bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Filsafat UGM tidak hanya merayakan perjalanan institusi yang telah memasuki usia ke-59 tahun, tetapi juga memberikan penghormatan atas pengabdian Prof. Lasiyo bagi dunia pendidikan dan pengembangan filsafat, khususnya dalam upaya mengangkat wayang sebagai sumber refleksi filosofis yang hidup di tengah masyarakat.